Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi Kami
Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi Kami
Timika, Papuatimes.com – Dari bentangan hutan hingga arena pertandingan modern, suara tarikan busur kini kembali menggema sebagai tanda kebangkitan Papua. Panahan tidak lagi sekadar olahraga, melainkan simbol identitas, harga diri, dan harapan baru bagi generasi muda Bumi Cenderawasih.
Di tengah arus modernisasi, nilai-nilai tradisional justru menemukan jalannya untuk bangkit melalui olahraga. Panahan—yang sejak dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua—kini didorong naik kelas menjadi kekuatan prestasi yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
Persatuan Panahan Indonesia melalui PERPANI Timika mengambil peran strategis dalam menghidupkan kembali semangat ini. Tidak hanya membina atlet, tetapi juga membangun kesadaran bahwa panahan adalah warisan leluhur yang tidak boleh hilang ditelan zaman.
Ketua Umum PERPANI Timika, dr. Enny Kenagalem, M. Biomed, menegaskan bahwa panahan adalah lebih dari sekadar olahraga.“Ini bukan hanya soal menang atau kalah. Panahan adalah jati diri orang Papua. Di dalamnya ada sejarah panjang, ada nilai kehidupan, ada filosofi tentang fokus, kesabaran, dan ketangguhan,” ujarnya dengan penuh semangat.
Menurutnya, jika panahan ditinggalkan, maka sebagian identitas budaya Papua juga ikut memudar.“Kalau kita tidak jaga sekarang, siapa lagi? Panahan harus tetap hidup—bukan hanya di kampung-kampung, tapi juga di panggung dunia,” tegasnya.
Tahun 2026 disebut sebagai tahun emas bagi olahraga panahan. Berbagai event bergengsi telah menanti, membuka peluang besar bagi atlet-atlet daerah untuk tampil.
Dari Shanghai, Antalya, hingga Madrid, ajang Hyundai Archery World Cup akan menjadi panggung dunia. Sementara itu, Asian Games 2026 di Jepang menjadi target besar yang diperebutkan oleh atlet terbaik Asia.
Di tingkat nasional, kompetisi demi kompetisi seperti Kejurnas Junior, Kejurnas Antar Pelajar, hingga Kejurnas Senior menjadi jalur penting pembinaan atlet menuju level elite.
Namun bagi Papua, ini bukan sekadar agenda olahraga.“Ini momentum. Kita tidak boleh hanya jadi penonton. Anak-anak Papua harus ada di sana, berdiri sejajar dengan atlet dunia,” ujar Enny.
Di tengah tantangan zaman, PERPANI Timika mengeluarkan seruan tegas kepada generasi muda Papua: bangkit dan ambil bagian.
Panahan disebut sebagai olahraga yang bukan hanya melatih fisik, tetapi juga mental, disiplin, dan karakter.“Kami ingin anak-anak muda Papua tidak kehilangan arah. Pegang busur, tarik anak panah, dan bidik masa depanmu. Di situ ada jalan menuju prestasi, bahkan masa depan yang lebih baik,” katanya.
Ajakan ini bukan sekadar retorika. Panahan diyakini mampu menjadi solusi positif di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi generasi muda.“Daripada terjerumus hal-hal negatif, lebih baik kita arahkan energi anak-anak muda ke olahraga. Panahan bisa jadi jalan perubahan,” tambahnya.
Namun kebangkitan ini tidak bisa berjalan sendiri. PERPANI Timika menegaskan pentingnya dukungan nyata dari semua pihak.
Mulai dari pemerintah daerah, sektor swasta, hingga masyarakat umum diharapkan terlibat aktif dalam pembinaan dan pengembangan panahan.“Jangan biarkan atlet kita berjuang sendiri. Mereka butuh fasilitas, pelatihan, dan dukungan moral. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegas Enny.
Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha, untuk mendukung turnamen dan pembinaan atlet secara berkelanjutan.
Kini, panahan di Papua berdiri di persimpangan penting—antara masa lalu dan masa depan.Di satu sisi, ia adalah warisan leluhur yang sarat makna. Di sisi lain, ia adalah peluang emas untuk meraih prestasi dunia.PERPANI Timika percaya, jika keduanya disatukan, maka Papua tidak hanya akan dikenal karena budayanya, tetapi juga karena prestasinya.“Satu panah bisa mengubah arah. Satu generasi bisa mengubah masa depan. Dan semuanya bisa dimulai dari sini, dari Timika -Papua,” ujar Enny penuh optimisme.(redaksi)