Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi Kami
Timika,Papuatimes.com, 7 Juni 2026 – Semangat persatuan, persaudaraan, dan kebersamaan mewarnai Pengukuhan Badan Pengurus Ikatan Keluarga Timor Bersaudara (IKTB) yang berlangsung di kawasan perkebunan kelapa sawit eks PT PAL yang kini dikelola oleh PT Karya Belavita di Jalan Trans Nabire, Kabupaten Mimika.
Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiKegiatan yang berlangsung penuh kekeluargaan tersebut menjadi momentum bersejarah bagi keluarga besar Timor yang tinggal dan bekerja di wilayah perkebunan. Dalam kesempatan itu, Marianus M. Kabosu asal Belu-Malaka resmi dikukuhkan sebagai Ketua IKTB.
Pengukuhan ini memiliki makna yang sangat penting karena IKTB merupakan kerukunan keluarga pertama yang dibentuk di lingkungan PT Karya Belavita. Kehadiran organisasi ini diharapkan menjadi wadah pemersatu keluarga besar Timor sekaligus menjadi jembatan komunikasi dalam membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat adat Papua, perusahaan, dan seluruh elemen masyarakat di wilayah tersebut.
Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya partisipasi warga yang hadir. Ratusan orang memadati lokasi kegiatan yang terdiri dari keluarga besar Timor, masyarakat adat Papua, tokoh agama, tokoh masyarakat, kaum perempuan, pemuda, serta para pekerja yang tinggal di sekitar wilayah perkebunan. Kehadiran ratusan warga tersebut menunjukkan kuatnya semangat persaudaraan dan dukungan terhadap terbentuknya IKTB.
Keberadaan organisasi ini dinilai sangat relevan mengingat jumlah masyarakat dan karyawan yang berasal dari Pulau Timor di wilayah perkebunan tersebut diperkirakan hampir mencapai 200 orang. Selama bertahun-tahun mereka telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan pembangunan di lingkungan perusahaan serta hidup berdampingan dengan masyarakat adat setempat.
Salah satu momen yang paling berkesan dalam kegiatan tersebut adalah kehadiran empat kepala suku Papua, yakni Kepala Suku Mee, Kepala Suku Dani, Kepala Suku Kamoro, dan Kepala Suku Moni yang berdomisili di kawasan perkebunan sawit sepanjang Jalan Trans Nabire. Kehadiran mereka menjadi simbol kuat dukungan masyarakat adat terhadap semangat persatuan dan kebersamaan yang terus dibangun oleh keluarga besar Timor melalui IKTB.
Dalam sambutannya, Kepala Suku Mee menyampaikan bahwa keluarga besar Timor selama ini telah menunjukkan kemampuan untuk hidup berdampingan, berbaur, dan bekerja sama dengan masyarakat Papua. Menurutnya, hubungan baik yang telah terjalin harus terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kepala Suku Dani mengajak seluruh pekerja dan masyarakat untuk terus menjaga persatuan. Menurutnya, lingkungan kerja yang aman, masyarakat yang harmonis, dan perusahaan yang kuat hanya dapat terwujud apabila semua pihak mengedepankan kebersamaan serta saling menghormati tanpa memandang suku maupun daerah asal.
Sementara itu, Kepala Suku Kamoro menyampaikan ucapan selamat kepada pengurus IKTB yang baru dikukuhkan. Ia berharap organisasi tersebut mampu menjadi rumah bersama bagi keluarga besar Timor serta menjadi mitra yang baik dalam menjaga keamanan dan keharmonisan lingkungan.
Pesan yang sangat kuat disampaikan oleh Kepala Suku Moni. Ia mengingatkan bahwa berbagai persoalan yang pernah terjadi di masa lalu hendaknya menjadi pelajaran berharga untuk membangun masa depan yang lebih baik. Menurutnya, momentum pengukuhan IKTB harus menjadi sejarah baru dalam memperkuat persaudaraan dan kebersamaan.
“Kalau dulu ada berbagai persoalan, hari ini harus menjadi sejarah untuk bersatu. Kita hidup bersama di tempat ini, maka kebersamaan harus menjadi kekuatan kita,” pesannya yang disambut hangat oleh para peserta.
Ketua MARTIR (Manggarai–Tirosa Flobamora NTT), Bapak Ananias Faot, dalam sambutannya memberikan perhatian khusus kepada generasi muda. Ia menegaskan bahwa anak-anak muda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga persatuan dan kedamaian di lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerja.
“Empat kepala suku yang hadir hari ini adalah orang tua kalian di tanah Papua. Hormati mereka, dengarkan nasihat mereka, dan jadikan mereka sebagai tempat meminta petunjuk. Kita hidup bersama di tempat ini sehingga persatuan harus menjadi kekuatan utama yang kita jaga bersama,” tegas Ananias Faot.
Ia juga menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para kepala suku yang telah hadir memberikan dukungan dan restu kepada keluarga besar Timor. Menurutnya, kehadiran para tokoh adat menunjukkan bahwa hubungan persaudaraan antara masyarakat Papua dan keluarga besar Timor selama ini berjalan dengan baik dan harus terus dipelihara.
Turut memberikan sambutan, sesepuh Manggarai yang telah lebih dari 40 tahun hidup dan berkarya di tanah Papua, Bapak Yohanis Dahur, menyampaikan pesan penting tentang penghormatan kepada masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat di Mimika.
“Kita harus menghormati masyarakat adat sebagai pemilik tanah ini. Kita hidup, bekerja, membangun keluarga, dan mencari nafkah di atas tanah yang telah menerima kita dengan baik. Karena itu hormatilah para kepala suku, hormatilah masyarakat adat, dan jagalah hubungan persaudaraan yang telah dibangun selama ini,” pesannya.
Menurut Yohanis Dahur, salah satu kunci terciptanya kedamaian dan keharmonisan di Mimika adalah sikap saling menghormati antara masyarakat pendatang dan masyarakat adat. Ia berharap IKTB dapat menjadi organisasi yang tidak hanya memperkuat solidaritas internal keluarga besar Timor, tetapi juga mempererat hubungan yang harmonis dengan masyarakat adat Papua.
Di tengah suasana penuh kebersamaan tersebut, sejumlah peserta juga menyayangkan tidak hadirnya pihak manajemen PT Karya Belavita dalam kegiatan pengukuhan. Padahal, momentum yang mengusung semangat persatuan dan harmonisasi ini dinilai menjadi kesempatan yang baik untuk memperkuat komunikasi dan membangun hubungan yang lebih erat antara perusahaan, pekerja, masyarakat adat, dan masyarakat sekitar.
Meskipun demikian, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh kekeluargaan. Semangat yang tercermin sepanjang acara menunjukkan bahwa masyarakat memiliki komitmen yang sama untuk menjaga kedamaian, memperkuat persaudaraan, dan membangun kehidupan yang harmonis di lingkungan perkebunan.
Pengukuhan IKTB bukan sekadar pelantikan sebuah organisasi, melainkan lahirnya sebuah wadah yang diharapkan mampu merawat persatuan di tengah keberagaman. Kehadiran empat kepala suku Papua bersama ratusan warga menjadi bukti bahwa kebersamaan adalah fondasi utama dalam membangun masa depan yang damai dan sejahtera.
“Berbeda suku, berbeda budaya, tetapi tetap satu keluarga. Persatuan adalah kekuatan, dan persaudaraan adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik.”(redaksi )