Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi Kami
Timika, Papuatimes.com – Kerukunan Keluarga Besar Manggarai (KKBM) akan menggelar Musyawarah VIII Tahun 2026 pada Minggu, 14 Juni 2026, bertempat di Aula SMKS Tunas Bangsa Timika, mulai pukul 09.00 WIT hingga selesai. Forum tertinggi organisasi ini akan menjadi momentum penting bagi warga Manggarai untuk memilih pemimpin baru yang akan menakhodai KKBM periode 2026–2031.
Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiSebagai salah satu organisasi paguyuban terbesar di Kabupaten Mimika yang menghimpun warga dari Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur, KKBM memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan, melestarikan budaya, serta memperjuangkan kepentingan warga Manggarai di tanah Papua. Jumlah warga Manggarai di Timika diperkirakan mencapai lebih dari 5.000 jiwa, menjadikan KKBM sebagai salah satu kekuatan sosial yang cukup diperhitungkan di Mimika.
Menjelang musyawarah, tiga kandidat menyampaikan gagasan dan pandangan mereka kepada warga,melalui Papuatimes.com yakni Longginus, Alfons, dan Willi . Ketiganya memiliki kesamaan tujuan, namun menawarkan pendekatan yang berbeda dalam menjawab tantangan organisasi.
Meski datang dengan latar belakang dan strategi yang berbeda, ketiga kandidat sepakat bahwa tantangan terbesar KKBM saat ini adalah menjaga dan memperkuat persatuan warga Manggarai.
Ketiganya juga menaruh perhatian terhadap generasi muda sebagai penerus organisasi. Pemuda dipandang sebagai aset penting yang harus diberi ruang lebih besar untuk terlibat dalam kehidupan organisasi dan pembangunan komunitas Manggarai di Timika.
Selain itu, seluruh kandidat mengedepankan penyelesaian persoalan melalui dialog, komunikasi, dan pendekatan kekeluargaan yang berakar pada budaya Manggarai.
Berbeda dari kandidat lainnya, Longginus lebih banyak menyoroti aspek kemandirian organisasi. Menurutnya, banyak program tidak dapat berjalan maksimal apabila organisasi tidak memiliki sumber pendapatan yang jelas dan berkelanjutan.
Karena itu, ia menilai KKBM perlu mulai memikirkan langkah-langkah strategis untuk membangun sumber pemasukan organisasi guna memperkuat kas dan mendukung berbagai kegiatan sosial maupun kemasyarakatan.
Selain itu, Longginus menempatkan komunikasi sebagai fondasi utama kepemimpinan. Ia menilai hubungan antara warga, tokoh masyarakat, orang tua, dan generasi muda harus diperkuat kembali agar KKBM mampu bergerak dalam satu arah yang sama.
Dalam pandangannya, konflik bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan harus dipahami akar persoalannya agar penyelesaian yang diambil tidak hanya menyelesaikan gejala, tetapi juga menyentuh sumber masalahnya.
Pendekatan Longginus dapat digambarkan sebagai upaya membangun KKBM yang mandiri secara organisasi dan kuat secara internal.
Sementara itu, Alfons melihat tantangan terbesar KKBM saat ini berada pada aspek solidaritas sosial dan kepercayaan masyarakat terhadap organisasi.
Menurutnya, warga Manggarai membutuhkan figur pemimpin yang mampu mengayomi semua kelompok tanpa membedakan latar belakang, sektor, maupun kepentingan tertentu. Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kembali kepercayaan warga terhadap organisasi dan para tokoh masyarakat.
Alfons juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pembangunan sekretariat sebagai simbol kehadiran dan identitas warga Manggarai di Timika.
Dalam bidang kepemudaan, ia menawarkan pembentukan wadah pemuda dan pemudi Manggarai yang melibatkan laki-laki dan perempuan secara seimbang sehingga memiliki rasa tanggung jawab yang sama terhadap organisasi.
Terkait dinamika organisasi masyarakat NTT, Alfonsius mengambil posisi yang cukup tegas. Ia berpandangan bahwa KKBM harus tetap menjadi bagian dari keluarga besar Flobamora sebagai rumah bersama masyarakat NTT di perantauan.
Gagasan Alfons lebih menitikberatkan pada penguatan solidaritas, kepemimpinan yang mengayomi, dan penguatan posisi KKBM dalam keluarga besar masyarakat NTT.
Berbeda dengan dua kandidat lainnya, Willi menempatkan rekonsiliasi dan penyatuan kembali warga KKBM sebagai program prioritas utama.
Ia menilai bahwa berbagai dinamika yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir perlu segera diakhiri melalui komunikasi yang baik dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat Manggarai.
Willi juga merupakan satu-satunya kandidat yang secara spesifik menyoroti pentingnya penyelesaian status tanah hibah dari Suku Kapawe di belakang Brigif, yang menurutnya merupakan aset penting organisasi dan harus memperoleh kepastian hukum demi kepentingan generasi mendatang.
Selain melanjutkan pembangunan sekretariat, ia juga mendorong pembentukan organisasi kepemudaan KKBM yang terstruktur dan mampu menjadi garda terdepan dalam menggerakkan program-program organisasi.
Dalam menyikapi dinamika antara kelompok Martir dan Flobamora, Willi memilih pendekatan rekonsiliatif. Ia berpandangan bahwa KKBM tidak perlu menjadi bagian dari konflik, tetapi harus hadir sebagai jembatan komunikasi yang mampu mempertemukan berbagai pihak demi terciptanya persatuan masyarakat NTT.
Visi Willi dapat dirangkum sebagai upaya membangun KKBM yang bersatu kembali, memiliki kepastian aset organisasi, serta berperan sebagai pemersatu di tengah berbagai dinamika sosial yang ada.
Ketiga kandidat hadir dengan kekuatan dan fokus yang berbeda. Longginus menawarkan kemandirian organisasi melalui penguatan ekonomi dan komunikasi internal. Alfons mengedepankan solidaritas sosial dan penguatan kepercayaan warga terhadap kepemimpinan organisasi. Sementara Willi fokus pada rekonsiliasi, penyelesaian aset organisasi, dan penguatan kelembagaan KKBM.
Ketua Panitia Musyawarah VIII KKBM, Siprianus Madur, mengimbau seluruh warga Manggarai untuk hadir dan berpartisipasi dalam musyawarah yang akan digelar pada 14 Juni mendatang. Panitia mengharapkan kehadiran perwakilan 20 kelompok arisan, para ketua sektor, sesepuh, tokoh masyarakat, serta pengurus periode sebelumnya agar forum musyawarah dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan keputusan terbaik bagi masa depan KKBM.
Kini, keputusan berada di tangan peserta musyawarah. Siapakah yang paling layak memimpin KKBM lima tahun ke depan? Jawabannya akan ditentukan oleh warga Manggarai sendiri dalam Musyawarah VIII KKBM Tahun 2026.( redaksi )