🚀 Pasang Iklan Sekarang!

Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.

Hubungi Kami

🚀 Pasang Iklan Sekarang!

Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.

Hubungi Kami

🚀 Pasang Iklan Sekarang!

Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.

Hubungi Kami

🚀 Pasang Iklan Sekarang!

Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.

Hubungi Kami

“Stop Sebut Kamoro Susah Diatur!” — Viktor Fatubun Bongkar Stigma, Bangun Harapan Suku Kapawe-Kamoro di Mapurujaya

Timika, PapuaTimes – Pernyataan “orang Kamoro susah diatur” kini mendapat perlawanan keras dari Viktor Fatubun. Bagi tokoh pendidikan yang telah mengabdi lebih dari 30 tahun di Tanah Papua ini, kalimat tersebut bukan sekadar opini—melainkan racun yang menghancurkan masa depan generasi muda.

🚀 Pasang Iklan Sekarang!

Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.

Hubungi Kami

Perjuangannya kini terfokus pada Suku Kapawe di kawasan Mapurujaya, Kabupaten Mimika, wilayah pesisir yang selama ini kerap dipandang sebelah mata.

Lahir tahun 1963 di Kei Elat, Viktor memulai kariernya sebagai guru honorer sejak 1993 di wilayah Kepala Burung, Sorong. Ia menembus daerah-daerah terpencil seperti Teminabuan, Aifat hingga Aitiyo—mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan di tengah segala keterbatasan.

Namun, setelah tiga dekade mengabdi, ia masih menghadapi realitas yang sama: anak-anak putus sekolah dan stigma yang tak kunjung hilang, terutama di kalangan masyarakat Kamoro, termasuk Suku Kapawe di Mapurujaya.

Kini, sebagai Ketua Dewan Pendiri Yayasan SMP dan SMA Taruna Dharma Timika, Viktor mengambil langkah nyata—membangun sekolah di tengah komunitas tersebut.

Tak hanya itu, ia juga menggagas program besar: bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk membentuk mental disiplin siswa melalui latihan baris-berbaris. Targetnya jelas—lulusan tidak hanya memegang ijazah, tetapi juga memiliki sertifikat keterampilan sebagai tenaga security.

“Kami mau mereka siap kerja. Disiplin itu kunci. Kalau mental sudah terbentuk, masa depan mereka terbuka,” tegasnya.

Namun yang paling membuatnya geram adalah stigma yang terus diulang, bahkan oleh pihak yang seharusnya menjadi panutan.

“Sangat disayangkan kalau guru atau pejabat bilang orang Kamoro susah diatur. Itu bukan mendidik—itu merusak,” katanya tegas.

Menurut Viktor, label seperti itu adalah bentuk pembunuhan karakter secara perlahan.

“Stop! Jangan racuni mereka dengan kata-kata seperti itu. Semua anak bisa maju kalau diberi kesempatan,” ujarnya.

Baginya, Suku Kapawe di Mapurujaya bukan masalah—melainkan potensi yang selama ini kurang disentuh dengan pendekatan yang tepat.

Pembangunan sekolah dan program pembinaan disiplin yang ia gagas menjadi bukti bahwa perubahan tidak datang dari keluhan, tetapi dari keberanian bertindak.

Dari pesisir Mapurujaya, Viktor Fatubun sedang mengirim pesan keras:

Bukan orang Kamoro yang harus berubah—
tetapi cara pandang kita terhadap mereka( redaksi )

Media Papuatimes.com , menyuarakan kebenaran suara litas Negeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like