šŸš€ Pasang Iklan Sekarang!

Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.

Hubungi Kami

šŸš€ Pasang Iklan Sekarang!

Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.

Hubungi Kami

šŸš€ Pasang Iklan Sekarang!

Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.

Hubungi Kami

šŸš€ Pasang Iklan Sekarang!

Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.

Hubungi Kami

Dari Pegunungan Tengah ke Panggung Kepemimpinan: dr. Enny Kenangalem Ukir Sejarah di IDI Mimika

šŸš€ Pasang Iklan Sekarang!

Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.

Hubungi Kami

TIMIKA, PapuaTimes.com – Dari tanah pegunungan yang penuh keterbatasan, lahir sebuah kisah yang kini menjadi inspirasi bagi banyak orang di Papua.

dr. Enny Kenangalem, M.Biomed resmi terpilih sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Mimika periode 2025–2028. Ia bukan hanya seorang dokter, tetapi juga menjadi simbol harapan—sebagai perempuan pertama dari Pegunungan Tengah yang berhasil menjadi dokter dan kini memimpin organisasi profesi di daerah ini.

Terpilih dalam Musyawarah Cabang (Muscab) IDI Mimika pada Minggu (12/4/2026), momentum ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Ini adalah bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjuangan panjang menuju perubahan.

Kegiatan Muscab yang dirangkaikan dengan Mimika Medical Update (MMU) 2026 mengusung tema ā€œAdvancing Healthcare in Papuaā€, seakan menjadi cerminan dari perjalanan hidup dr. Enny sendiri—melangkah maju, menembus batas, dan membawa perubahan nyata.

Ia menggantikan dr. Leonard Pardede, Sp.OG(K) yang telah memimpin selama periode 2022–2025, sekaligus melanjutkan estafet kepemimpinan dengan semangat baru.

Dalam sambutan Ketua IDI Wilayah Papua, Nickanor K.R. Wonatorey, Sp.U., ditegaskan bahwa organisasi profesi harus menjadi kekuatan yang solid dan adaptif, serta mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Namun di balik itu semua, ada pesan yang lebih dalam—bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk melangkah.

dr. Enny membawa visi yang tidak hanya berbicara tentang sistem, tetapi juga tentang kemanusiaan. Ia menegaskan tiga pilar utama kepemimpinannya: kesejahteraan anggota, keterbukaan pelayanan, dan sinergi lintas sektor.

ā€œKita ingin membangun jembatan yang kuat dari pelayanan kesehatan dasar hingga rujukan. Tidak boleh ada dokter yang merasa sendiri, terutama mereka yang bertugas di pedalaman,ā€ ungkapnya.

Baginya, dokter di pesisir, pegunungan, maupun wilayah terpencil harus tetap terhubung dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan memiliki akses yang setara terhadap fasilitas.

Ia juga menekankan pentingnya solidaritas dalam profesi.

ā€œTidak boleh ada sekat antara junior dan senior. Kita adalah satu keluarga dalam satu profesi. Kita maju bersama,ā€ tegasnya.

Kisah dr. Enny adalah pengingat bahwa latar belakang tidak menentukan masa depan. Dari Pegunungan Tengah, ia melangkah, belajar, berjuang, dan kini berdiri sebagai pemimpin.

Lebih dari sekadar jabatan, ini adalah panggilan untuk mengabdi.

Dan dari Mimika hari ini, sebuah pesan kuat menggema:
anak-anak Papua bisa, perempuan Papua mampu, dan masa depan kesehatan Papua sedang dibangun oleh putra-putri terbaiknya sendiri.(redaksi)

Media Papuatimes.com , menyuarakan kebenaran suara litas Negeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like