Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi Kami

Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTimika,Papuatimes.com – Perjalanan hidup Sadok Helwen menjadi bukti bahwa perjuangan melawan penyakit dan stigma sosial dapat melahirkan semangat kemanusiaan yang luar biasa.
Pria yang akrab disapa Sadox itu kini dikenal sebagai aktivis pendamping pasien Tuberculosis (TB) dan HIV/AIDS di Timika, Papua Tengah. Namun di balik dedikasinya membantu banyak orang, Sadok ternyata pernah menjadi pasien TB RO (Tuberkulosis Resistan Obat) yang harus menjalani masa pengobatan panjang dan penuh tantangan.
Kini, Sadok dinyatakan sembuh total. Kesembuhannya tidak terlepas dari dukungan keluarga, terutama sang istri tercinta, Indah, serta anak-anaknya yang tetap setia mendampingi di tengah berbagai persoalan kesehatan maupun tekanan sosial yang dihadapinya saat itu.
“Kalau bukan karena dukungan keluarga, mungkin saya tidak bisa sampai di titik ini,” ungkap Sadok kepada awak media.
Setelah dinyatakan sembuh, ia memilih mengabdikan dirinya untuk membantu pasien lain agar tidak menyerah menghadapi penyakit. Saat ini Sadok aktif sebagai staf kelompok pendamping PMO (Pengawas Menelan Obat) untuk pasien TB di beberapa Puskesmas di Timika dan juga menjadi relawan di Yayasan Yapeda.
Dedikasi dan pengalamannya sebagai mantan pasien TB RO membuat Sadok kini juga dipercaya oleh Dinas Kesehatan melalui bidang P2M (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular) untuk membantu memberikan penyuluhan dan edukasi tentang TB di sejumlah Puskesmas yang memiliki angka pasien TB cukup tinggi di Kabupaten Mimika.
Dalam setiap kegiatan penyuluhan, Sadok tidak hanya menyampaikan materi kesehatan, tetapi juga memberikan motivasi kepada pasien agar tetap semangat menjalani pengobatan hingga tuntas. Pengalaman pribadinya sebagai penyintas TB RO menjadi kekuatan tersendiri yang membuat banyak pasien merasa lebih percaya diri dan tidak malu untuk berobat.
Tidak hanya aktif di bidang kesehatan, Sadok juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan pembinaan generasi muda. Ia menjalankan sanggar tari bersama anak-anak muda di Timika sebagai wadah kreativitas sekaligus pembinaan karakter generasi muda Papua.
Sadok juga merupakan alumni PILA (Pemuda Indonesia Lawan AIDS), sebuah program pembinaan kepemudaan yang digagas oleh Yayasan Yapeda untuk melahirkan generasi muda peduli kesehatan dan kemanusiaan.
Dedikasi Sadok mendapat apresiasi dari para pasien yang pernah didampinginya. Salah seorang pasien TB yang enggan disebutkan namanya mengaku sangat terbantu dengan kehadiran Sadok selama menjalani pengobatan.
“Beliau bekerja dengan hati, tanpa pamrih. Selalu datang memberi semangat dan membantu kami saat putus asa,” ujar pasien tersebut.
Saat ini Sadok tinggal di rumah singgah Yapeda di kawasan Busiri, Kabupaten Mimika. Bersama para relawan lainnya, ia terus mendampingi masyarakat kurang mampu, pasien TB, dan ODHIV yang membutuhkan dukungan kesehatan maupun sosial.
Bagi banyak orang di Timika, sosok Sadok Helwen bukan hanya penyintas TB RO, tetapi juga simbol harapan bahwa setiap perjuangan hidup dapat berubah menjadi kekuatan untuk menolong sesama.(redaksi)