Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi Kami
Timika, Papuatimes.com — Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengajak seluruh kepala daerah kabupaten, dinas kesehatan kabupaten, tokoh agama, tokoh adat, tenaga kesehatan, komunitas pemuda, hingga masyarakat umum untuk menjadikan momentum Malam Renungan AIDS atau International Candlelight Memorial 2026 sebagai gerakan nyata dalam upaya pencegahan HIV/AIDS di Papua Tengah.
Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiPeringatan International Candlelight Memorial sendiri diperingati setiap bulan Mei pada minggu ketiga setiap tahunnya. Tahun ini, tema internasional yang diangkat adalah “Peer Magic: The Power of Connection, Care and Lived Experience.”
Dihubungi melalui pesan singkat, Sekretaris Dinas Kesehatan Papua Tengah menjelaskan kepada Papuatimes.com bahwa malam renungan AIDS bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum penting untuk membangun kepedulian bersama terhadap persoalan HIV/AIDS yang masih menjadi tantangan serius di Papua Tengah.
“Momentum ini harus menjadi ajakan bersama untuk merenung, memperbaiki diri, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama, khususnya saudara-saudari kita yang hidup dengan HIV/AIDS,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa persoalan HIV/AIDS tidak hanya berkaitan dengan penularan penyakit, tetapi juga stigma dan diskriminasi yang masih dialami Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), terutama Orang Asli Papua (OAP).
Menurutnya, stigma sosial justru sering menjadi beban yang lebih berat dibanding penyakit itu sendiri. Karena itu, masyarakat diminta untuk berhenti mengucilkan ODHA dan mulai membangun sikap saling merangkul serta mendukung proses pengobatan dan pendampingan mereka.
“Mereka bukan untuk dijauhi. Mereka membutuhkan dukungan, perhatian, dan kesempatan hidup yang sama seperti masyarakat lainnya,” katanya.
Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga secara khusus meminta seluruh pemerintah kabupaten dan dinas kesehatan kabupaten untuk tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menghadirkan gerakan nyata pencegahan HIV/AIDS di lapangan.
Langkah tersebut meliputi penguatan edukasi masyarakat, perluasan layanan tes HIV, pendampingan ODHA, distribusi obat ARV hingga ke distrik, serta keterlibatan aktif tokoh agama, tokoh adat, dan komunitas lokal dalam kampanye pencegahan.
“Kami berharap para kepala daerah dan dinas kesehatan kabupaten menjadikan persoalan HIV/AIDS sebagai perhatian serius. Pencegahan harus dilakukan secara nyata dan berkelanjutan sampai ke kampung-kampung,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa malam renungan AIDS seharusnya menjadi waktu refleksi bagi seluruh masyarakat terhadap perilaku hidup yang menyimpang dan berisiko terhadap penularan HIV/AIDS.
“Kita harus berani merenung tentang perilaku hidup yang tidak sehat, seks bebas, penyalahgunaan narkoba suntik, dan berbagai tindakan yang membuka ruang penularan HIV. Kesadaran pribadi menjadi benteng pertama pencegahan,” ujarnya.
Kepada generasi muda Papua Tengah, pemerintah mengimbau agar menjaga diri, setia pada pasangan, menjauhi narkoba suntik, serta tidak takut melakukan tes HIV apabila merasa memiliki risiko.
“Tahu status lebih cepat berarti kesempatan hidup lebih panjang dan lebih sehat,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga meminta dukungan penuh bagi para pemerhati kesehatan, relawan, tenaga medis, dan pendamping ODHA yang selama ini bekerja di garis depan penanggulangan HIV/AIDS di Papua Tengah.
Menurutnya, para petugas lapangan sering menghadapi berbagai tantangan, mulai dari akses wilayah yang sulit, keterbatasan fasilitas, hingga stigma masyarakat yang masih tinggi.
“Para pemerhati kesehatan dan tenaga lapangan jangan dibiarkan bekerja sendiri. Mereka harus didukung oleh pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat agar upaya pencegahan HIV/AIDS bisa berjalan maksimal,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Papua Tengah menegaskan komitmennya untuk terus memperluas akses layanan HIV/AIDS melalui penyediaan tes HIV gratis di seluruh Puskesmas, memastikan ketersediaan ARV hingga ke distrik, serta memperkuat perlindungan terhadap ODHA agar bebas dari diskriminasi.
Di akhir pesannya, masyarakat diajak menyalakan lilin bukan hanya sebagai simbol duka bagi mereka yang telah meninggal akibat AIDS, tetapi juga sebagai simbol harapan dan tekad bersama untuk menghentikan penularan HIV/AIDS di Papua Tengah.
“Nyalakan lilin untuk mereka yang telah mendahului kita. Nyalakan harapan bagi mereka yang masih berjuang. Dan nyalakan tekad dalam diri kita semua untuk menghentikan stigma, menghentikan penularan, dan menghentikan kematian karena AIDS.”
“Papua Tengah bisa. Papua Tengah sehat. Papua Tengah tanpa stigma.”( Redaksi )