Tingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi KamiTingkatkan exposure bisnis kamu dan jangkau lebih banyak pelanggan hari ini.
Hubungi Kami
SURABAYA, Papuatimes.com, 18 Oktober 2026 β Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, hadir dalam kegiatan Festival Ekaristi dan Kunjungan Relikui Kelas I bertema The Heart That Heals, yang berlangsung pada 16β18 Oktober 2026 di Widya Mandala Hall, Pakuwon City, Surabaya.
Dalam penyampaiannya, Uskup mengajak umat Katolik untuk memahami bahwa perjumpaan dengan Tuhan Yesus dalam adorasi Ekaristi tidak semata-mata bertujuan menyampaikan berbagai permohonan, tetapi juga untuk membangun relasi kasih yang mendalam dengan-Nya.
Mengacu pada Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika, khususnya 1 Tesalonika 1:1β3, Uskup menekankan tiga unsur penting dalam kehidupan Kristiani, yaitu pekerjaan yang lahir dari iman, usaha yang didorong oleh kasih, dan ketekunan yang berakar pada pengharapan.
Adorasi Bukan Sekadar Meminta
Uskup mengingatkan bahwa manusia sering datang kepada Tuhan dengan banyak permohonan, hingga lupa menyadari kehadiran-Nya. Padahal, Tuhan mengetahui kebutuhan umat-Nya.
Adorasi Ekaristi, menurut refleksi yang disampaikannya, merupakan kesempatan untuk hadir di hadapan Kristus, memandang-Nya dengan iman, dan membiarkan diri dipenuhi oleh kasih-Nya.
Untuk menjelaskan hal tersebut, Uskup membagikan pengalaman masa remajanya ketika menyukai seorang teman. Baginya, seseorang yang sungguh mengasihi dapat merasakan kebahagiaan hanya dengan berada dekat orang yang dicintainya. Pengalaman sederhana itu menjadi gambaran tentang bagaimana umat dipanggil untuk mencintai Yesus, bukan hanya mencari pertolongan-Nya.
Uskup juga menceritakan pengalamannya menghadapi ketakutan saat menjalani pemeriksaan MRI pada Oktober 2020. Ketika itu, ia berdoa Rosario untuk menghadapi ketakutannya. Pengalaman tersebut menjadi refleksi mengenai motivasi dalam berdoa dan perjalanan menuju hubungan yang semakin mendalam dengan Tuhan.
Iman yang Menghasilkan Kasih dan Pelayanan
Mengacu pada teladan Rasul Paulus yang senantiasa bersyukur dan mendoakan jemaat Tesalonika, Uskup mengajak umat untuk mengenali Kristus bukan hanya dalam Sakramen Mahakudus, tetapi juga dalam diri sesama.
Ia mengingatkan agar umat tidak memandang kegiatan lingkungan dan paroki sebagai rutinitas yang monoton. Sebaliknya, pertemuan umat merupakan kesempatan untuk membangun persaudaraan, saling mendoakan, dan menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan bersama.
Uskup juga mengangkat teladan Santa Teresa dari Kalkuta, yang melayani orang-orang miskin dan menderita dengan penuh kasih karena imannya kepada Yesus. Teladan tersebut mengingatkan umat bahwa pelayanan bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan juga menghormati martabat orang yang dilayani.
Dalam kehidupan sehari-hari, iman perlu diwujudkan melalui kesetiaan kepada pasangan, tanggung jawab terhadap keluarga, kejujuran dalam bekerja, serta kepedulian kepada orang sakit dan mereka yang mengalami kesulitan.
Kasih Karunia dan Pengharapan yang Menguatkan
Uskup menjelaskan bahwa kasih karunia Allah merupakan anugerah yang diberikan secara cuma-cuma. Kesadaran bahwa manusia dikasihi Tuhan diharapkan menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Ia juga mengapresiasi semangat Komunitas Emanuel yang rela mencurahkan waktu dan tenaga untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut. Pengorbanan itu dilandasi pengharapan agar semakin banyak orang mengenal dan mencintai Tuhan Yesus, Bunda Maria, serta Sakramen Mahakudus.
Dalam refleksinya mengenai relikui, umat diajak untuk tidak berhenti pada apa yang tampak secara fisik, tetapi melihat makna rohaninya melalui iman. Relikui mengingatkan umat akan kesaksian hidup para kudus, sedangkan dalam Sakramen Mahakudus umat Katolik mengimani kehadiran nyata Yesus Kristus yang telah mengasihi dan menyerahkan diri demi keselamatan manusia.
Dari Perjumpaan Menuju Transformasi Hidup
Pesan yang disampaikan dalam kegiatan The Heart That Heals menegaskan bahwa adorasi Ekaristi bukan hanya pengalaman rohani sesaat. Perjumpaan dengan Kristus diharapkan membawa pembaruan hati yang terlihat dalam perilaku, hubungan keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kepada masyarakat.
Umat diajak untuk tidak hanya datang kepada Tuhan demi memperoleh sesuatu, tetapi juga belajar mengasihi-Nya dengan tulus, mengenali kehadiran-Nya dalam diri sesama, dan membagikan kasih yang telah diterima.
Iman menggerakkan pelayanan, kasih memberi makna pada pekerjaan, dan pengharapan memberikan kekuatan untuk terus melangkah. Melalui semangat tersebut, kegiatan The Heart That Heals mengajak umat menjadikan perjumpaan dengan Kristus sebagai jalan menuju pembaruan dan transformasi hidup yang nyata.( Redaksi)